Perkembangan pembangunan kesehatan di Kabupaten Grobogan dipengaruhi oleh banyak faktor yang diantaranya adalah sarana prasarana kesehatan khususnya layananan kesehatan yang menyentuh hingga masyarakat desa. Kondisi Sarana dan Prasarana tahun 2011 secara rinci tampak dalam tabel berikut :

Tabel: Kondisi Sarana dan Prasarana Kesehatan Tahun 2011

Kondisi-Sarana-dan-Prasarana-Tahun-2011

Sumber : Dinkes Kabupaten Grobogan

Selain indikator sarana prasarana kesehatan, indikator keberhasilan pembangunan kesehatan juga dapat ditunjukkan antara lain dari Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Balita (AKBAL) dan Berat Bayi Lahir Rendah (BBLR). Lebih detail dapat dilihat dalam tabel berikut :

Tabel : Angka Kematian Ibu Melahirkan, Angka Kematian Bayi Lahir

dan Prevalensi Gizi Kabupaten Grobogan Tahun 2008-2011

akb-aki-akbal-prevalensi-gizi

Sumber : Dinkes Kabupaten Grobogan (data tahun 2011 merupakan angka sementara)

Kh : Kelahiran Hidup (Jml Bayi Lahir Yang Hidup)

 

Angka Kematian Bayi (AKB)

Angka kematian bayi merupakan banyaknya kematian bayi umur kurang dari usia 1 tahun per 1.000 kelahiran hidup pada kurun waktu satu tahun. Berdasarkan data dalam tabel I.14, angka kematian bayi di Kabupaten Grobogan pada tahun 2011 sebesar 8,78 per 1.000 Kh, sedangkan pada tahun 2010 sebesar 11,86 per 1.000 Kh, sehingga pada tahun 2011 terjadi penurunan bila dibandingkan tahun 2010. Kondisi ini tentunya mengisyaratkan hasil yang baik karena jika dibandingkan dengan target Grobogan Sehat 2010 yang sebesar 40 per 1.000 kelahiran hidup.

Angka Kematian Ibu (AKI)

Berdasarkan laporan tabel di atas, angka kematian ibu melahirkan di Kabupaten Grobogan tahun 2011 sebesar 114,04 per 100.000 kelahiran hidup. Terjadi peningkatan bila dibanding dengan angka kematian ibu melahirkan pada tahun 2010 sebesar 80,02 per 100.000 kelahiran hidup. Namun angka tersebut masih dibawah target Grobogan sehat 2010 yang sebesar 150 per 100.000 kelahiran hidup.

Angka Kematian Balita (AKBAL)

Angka kematian balita di Kabupaten Grobogan tahun 2011 sebesar 9,12 per 1.000 balita, bila dibandingkan tahun 2010 yang sebesar 12,22 per 1.000 balita, maka terjadi penurunan dan dapat disimpulkan sebagai pertanda telah terjadi perbaikan disektor kesehatan Balita. Apalagi jika dibandingkan dengan target Grobogan Sehat 2010 sebesar 58, sehingga AKBAL masih jauh di bawahnya.

Gizi Buruk

Pendataan gizi buruk didasarkan pada 2 kategori, kategori pertama membandingkan berat badan dengan umurnya (BB/U) dan kategori kedua adalah membandingkan berat badan dengan tinggi badannya (BB/TB). Skrining pertama dilakukan di posyandu dengan kategori pertama yaitu membandingkan berat badan dengan umurnya melalui kegiatan penimbangan, jika ditemukan kasus gizi buruk dilakukan perawatan gizi buruk sesuai pedoman di posyandu dan Puskesmas, dilanjutkan dengan skrining berikutnya yaitu dengan membandingkan berat badan dengan tinggi badannya, jika ternyata menderita gizi buruk maka dilakukan perawatan sesuai standar sampai di Rumah Sakit.

Dari data tabel di atas, dapat dilihat bahwa persentase Balita dengan Gizi Buruk dari tahun 2008 sampai dengan tahun 2011 mengalami stagnan dalam angka 0,03%.

 

Adapun capaian penyelenggaraan Urusan Kesehatan, dapat dilihat dari indikator kinerja kunci sebagai berikut :

  1. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani, tingkat capaian kinerjanya mencapai 60,96% atau 2.963 komplikasi kebidanan yang mendapat penanganan definitif.
  2. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan, dengan tingkat capaian kinerja sebesar 97,87% atau sebesar 22.736 ibu bersalin.
  3. Cakupan Desa/kelurahan Universal Child Immunization (UCI), tingkat capaian kinerjanya mencapai 100% atau 280 desa/kelurahan.
  4. Cakupan Balita Gizi Buruk mendapat perawatan, dengan tingkat capaian kinerja sebesar 100%, atau dari 19 balita gizi buruk yang ditemukan kesemuanya mendapat perawatan.
  5. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA, dengan tingkat capaian kinerja mencapai 100%, atau dari 589 penderita TBC BTA yang ditemukan kesemuanya mendapat perawatan.
  6. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD, tingkat capaian kinerjanya mencapai 100%, atau dari 189 penderita yang ditemukan kesemuanya mendapat perawatan sesuai standar.
  7. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin, tingkat capaian kinerjanya sebesar 58,94% atau sebesar 353.445 kunjungan pasien masyarakat miskin dari total masyarakat miskin sebesar 599.651.
  8. Cakupan kunjungan bayi, tingkat capaian kinerjanya sebesar 92,84%, atau sebesar 20.611 bayi yang memperoleh pelayanan standar dari rata-rata jumlah seluruh bayai lahir hidup setiap tahunnya yaitu sebesar 22.200 bayi.

 

Radio Purwodadi FM

Klik banner ini untuk mendengarkan siaran Radio Purwodadi FM, dan Pastikan di komputer dan gadget anda sudah ter-install vlc media player !!

SENSUS PENDUDUK 2020

Go to top