produksi-sapiKabupaten Grobogan dikenal sebagai centra sapi potong. Dibandingkan 35 kabupaten kota di Jawa Tengah, Kabupaten Grobogan merupakan kabupaten tertinggi dalam hal produsen sapi potong.

Di daerah itu, sapi potong sebagian besar dipelihara masyarakat secara tradisional. Selain untuk kepentingan ekonomi, mereka memelihara sapi potong biasanya dimanfaat untuk keperluan pertanian. Seperti untuk membajak dan memanfaatkan kotorannya untuk keperluan pemupukan di sawah, kebun atau tegalan.

Data yang diproleh dari Dinas Perternakan dan Perikanan Kabupaten Grobogan, yang disampaikan sekretaris dinas, Riyanto menyebutkan, jumlah populasi sapi per Desember 2010 mencapai 137.843 ekor. Baik sapi potong maupun sapi perah. Sapi itu tersebar di setiap kecamatan atau desa.

Kabupaten Grobogan merupakan penghasil sapi potong terbanyak dan berkualitas bagus. Karena kondisi sapi yang ada normal dan tidak mudah terkena penyakit,” ujar Riyanto.

Sementara itu, Hadi Susianto selaku Kepala Bidang Produksi Perternakan ketika dikonfirmasi menambahkan, di Grobogan, sapi merupakan hewan yang dominan serta banyak manfaatnya. Seperti untuk daging dan menarik bajak di sawah. Menarik bajak dengan sapi tetap dilakukan oleh sebagian petani kendati saat ini jaman modern dan masyarakat mulai beralih memakai traktor.

”Pasar hewan, khususnya sapi, yang ada di Kabupaten Grobogan ada tiga. Yakni, Pasar Kliwon Wirosari, Pasar Wage Dayang, dan Pasar Pon Ketitang,” ungkapnya.

Selain sapi potong atau kampung, di Kabupaten Grobogan juga ada pemelihara sapi perah. Dibandingkan sapi potong, pemelihara sapi perah jumlahnya masih minim. Kondsi ini disebabkan karena perawatan sapi perah tak mudah dan butuh keahlian khusus.

Hadi  menambahkan, untuk bidang produksi perternakan ada tiga seksi. Pertama, seksi ternak yang menangani kegiatan inseminasi buatan, pembinaan, dan pembibitan. Seksi ini dipegang Sutono. Kedua seksi pakan ternak yang menangani bimbingan penggunaan dan peredaran pakan ternak. Seksi ini dipegan Trisniati. Ketiga seksi ESDM dan tehnologi yang menangani peningkatan pengetahuan dan tehnologi ternak. Seksi ini dijabat Dwi astuti.

Sutono selaku kepala seksi ternak yang menangani kegiatan inseminasi buatan, pembinaan dan pembibitan menambahkan, sapi potong kebanyakan berada di wilayah timur. Yakni, di Kecamatan Wirosri, Ngaringan, Keradenan, dan Sulur. Untuk sapi perah, jumlahnya mencapai 335 ekor. Sapi perah tersebut semuanya dikelola langsung oleh pihak perusahaan Tunggal Semi dan Budi Misfarme.

”Sapi perah tidak mudah dipelihara oleh peternak atau petani biasa, karena sapi perah beda dengan sapi potong atau kampung, karena kalau dipelihara peternak biasa hasilnya tidak maksimal,” katanya.

produksi-sapi-2Sutono mengatakan, Kabupaten Grobogan juga pernah meraih prestasi di bidang inseminator. Inseminator yang diketuai Mulyono, pernah mengikuti lomba inseminator tingkat Propinsi Jawa Tengah. Yakni, berhasil menyabet juara satu. Juara itu diperoleh tahun 2010. Di tahun yang sama, inseminator Dinas Perternakan dan Perikanan Grobogan juga menjuarai lomba inseminator tingkat nasional.

Sementara itu, Nur Ahmad, dari Kabid Kesehatan mengatakan, sapi yang ada di Kabupaten Grobogan kondisi kesehatannya cukup bagus. Karena gejala penyakit yang ada cukup rendah. Kondisi kesehatan sapi cukup baik, karena peternak sering mendapatkan sosialisasi tentang tata cara pencegahan dan pengobatan secara missal. Seperti tentang penyakit yang sering timbul dan mudah menular. Yakni, antrak.

”Kami juga sering melakukan sosialisasi pencegahan penyakit yang tak menular. Seperti penyakit gudig, cacingan, gangguan reproduksi, dan manutrisi atau kurang gizi,” tambahnya. (sol) Sumber: Radar Kudus, 14/3/2011.