produksi-jagungProduksi jagung Kabupaten Grobogan hingga Mei 2010 lalu, produksi telah mencapai 30.622 ton. Padahal kebutuhan jagung masyarakatnya sendiri setiap tahunnya sebesar 23.425 ton. Ini berarti sampai dengan Mei 2010 telah mengalami surplus sebesar 7.197 ton.

Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura (DPTPH) Kabupaten Grobogan, Edhie Sudaryanto, mengungkapkan rata-rata produksi jagung Kabupaten Grobogan setiap tahun 699.000 ton, maka Kabupaten Grobogan surplus 675.575 ton. Dan surplus jagung sebesar itu diserap daerah lain.

’’ Kabupaten Grobogan merupakan salah satu daerah produsen jagung terbesar nasional. Setiap tahun, daerah itu mampu memproduksi jagung sekitar 699.000 ton, dan mampu memberikan kontribusi terhadap Jawa Tengah sebesar 22,89 persen,’’ kata mantan Asisten II Sekda Grobogan ini.

Dengan produksi sebesar itu, Edhi melanjutkan, Kabupaten Grobogan menjadi baromater jagung nasional. Jadi, jika hasil panen baik atau sebaliknya, bisa mempengaruhi harga jagung di pasaran.

’’Sebagai barometer jagung nasional, baik dan buruknya hasil panen para petani bias mempengaruhi dan memberi dampak pada harag jagung di pasaran,’’ jelasnya.

Wakil Bupati Icek Baskoro menanggapi, keberhasilan para petani Kabupaten Grobogan dalam meningkatkan produktifitas tanaman jagung, mampu membawa nama Grobogan ke tingkat nasional.

’’Namun konsekuensi dari produksi melimpah, bisa menyebabkan tingginya penawaran dibanding permintaan sehingga membuat harga hasil pertanian terus menurun. Apalagi sifat produksi pertanian yang tidak dapat disimpan lama, menyebabkan petani tidak mempunyai posisi tawar yang baik apabila saat panen tiba,’’ ungkapnya.

Wabup berkeinginan petani didaerahnya tidak sekedar mengejar pada tingkat on farm. Di era globalisasi saat ini, jika ingin surfive, juga harus menguasai subsistem lain.

’’Para petani jangan hanya berkiblat kepada level on farm. Mereka juga harus memiliki penguasaan tentang subsistem dari hulu sampai hilir lain. Intinya, saya ingin petani di Kabupaten Grobogan mampu mengembangkan diri menjadi petani wirausaha agribisnis,” harap Icek.

Kasi jagung DPTPH Ngarso Widyarsono mengungkapkan agar lebih maksimal produksi jagung, Bappeda setempat menggalakan program Cluster jagung. Dimana, tempat ini menjadi pusat bertemunya hasil jagung di seluruh kabupaten tersebut.

”Maksudnya nantinya petani jagung langsung mengirimkan hasil jagungnya ke tempat ini. Dan dibeli langsung oleh tempat ini,” tuturnya. Sebab, tambahnya, nantinya untuk pengiriman ke cluster jagung tidak melalui pihak ketiga.

”Sehingga dengan begitu petani tidak menjual jagung dengan harga yang lebih rendah karena dibeli pihak ketiga. Selain itu, saat jagung tiba di cluster nantinya akan dijadikan subjek penelitian Litbang,” jelasnya.

Maka untuk menunjang cluster tersebut dibuatlah sentra jagung. Sentra jagung ini merupakan gabungan dari 6 kecamatan di wilayah Kabupaten Grobogan.

”Enam kecamatan tersebut ialah Tawangharjo, Ngaringan, Gubug, Kradenan, Pulokulon, Wirosari,” paparnya. (ici) Sumber: Radar Kudus, 14/3/2011.